Oleh: Riva Julianto
Sesat itu lamat-lamat mulai berkelebat
cepat di antara seniman-seniman yang
sedang mabuk kepayang terbang bersama
angan-angannya.
Sesat tak kuat lagi mendengarkan
raungan seniman yang senang berkelana
di rimba nuansa rasa.
Sesat itu mulai berkeringat, melihat
deraan kesucian hidup seniman yang
senantiasa dianggap pengap karena
mencari idea-idea di dunia nyata.
Sesat mengangkat bangkai seniman dari
kuburnya yang penuh pertikaian badan
dan perasaan.
Cimanggis 1993
No comments:
Post a Comment