Oleh: Rosa Ausländer
Pohon akasia berdarah
burung amsel, kupu-kupu
anak-anak sedang menyanyi
Kau bergembira
karena bau seorang narsis
Mendengar
nafas kehidupan
di dalam nafasmu
Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.
Ketika mulut tak bisa dipercaya, maka hati yang bicara. Ketika mata tak bisa melihat kebenaran, maka hati yang melihat kenyataan.
Friday, February 28, 2014
Misteri
Oleh : Rosa Ausländer
Jiwa sebuah benda
biarlah kuduga
keanehan
bumi yang takkan berhenti
Dengan rasa takut
kucari wajah
semua benda
dan kutemukan di dalamnya
misteri
Rahasia berbicara padaku
dengan bahasa yang hidup
Kudengar hati surgawi
mengetuk-ngetuk
di dalam hatiku
Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.
Jiwa sebuah benda
biarlah kuduga
keanehan
bumi yang takkan berhenti
Dengan rasa takut
kucari wajah
semua benda
dan kutemukan di dalamnya
misteri
Rahasia berbicara padaku
dengan bahasa yang hidup
Kudengar hati surgawi
mengetuk-ngetuk
di dalam hatiku
Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.
Pujian
Oleh: Rosa Ausländer.
Pujian
bumi
dan keajaiban yang tak pernah berhenti
Matahari bulan gugusan bintang
dan apa yang berdiri
di belakangnya
Persaudaraan manusia
terekam
di dalam wadah hati
keabadian kecil kami
Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.
Pujian
bumi
dan keajaiban yang tak pernah berhenti
Matahari bulan gugusan bintang
dan apa yang berdiri
di belakangnya
Persaudaraan manusia
terekam
di dalam wadah hati
keabadian kecil kami
Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.
Musim Panas
Oleh: Rosa Ausländer.
Hijaunya
daun tak pernah bisa ditebak
pohon papel
dibelai angin
Matahari
membuka pintunya
Masuklah
warna-warni jiwa
ke dalam jejaring udara
Saudara perempuan yang tak pernah lahir
melambaikan salam cinta dan isyarat
Siapakah menyanyikan
burung-burung impian
di atas pohon papel
*Papel (Populus): sejenis pohon sangat tinggi dan besar
Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.
Hijaunya
daun tak pernah bisa ditebak
pohon papel
dibelai angin
Matahari
membuka pintunya
Masuklah
warna-warni jiwa
ke dalam jejaring udara
Saudara perempuan yang tak pernah lahir
melambaikan salam cinta dan isyarat
Siapakah menyanyikan
burung-burung impian
di atas pohon papel
*Papel (Populus): sejenis pohon sangat tinggi dan besar
Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.
Matahari II
Oleh: Rosa Ausländer
Sore hari
muncul matahari
ke dalam kamar
Semuanya berubah
keemasan
hangatnya bagian hidup ini
kekayaan emas ini
Kubiarkan bendera emas menyala
berkibar di atas menara
mimpiku
Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.
Sore hari
muncul matahari
ke dalam kamar
Semuanya berubah
keemasan
hangatnya bagian hidup ini
kekayaan emas ini
Kubiarkan bendera emas menyala
berkibar di atas menara
mimpiku
Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.
Bumi Datar
Oleh: Rosa Ausländer
Puncak pegunungan
yang memutih ini
di negeri tak ada peperangan
aku mendaki puncaknya
dan dunia
menjejakan kaki
Kini
bumi datar
dan kakinya
terdiam
Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.
Puncak pegunungan
yang memutih ini
di negeri tak ada peperangan
aku mendaki puncaknya
dan dunia
menjejakan kaki
Kini
bumi datar
dan kakinya
terdiam
Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.
Dongeng
Oleh : Rosa Ausländer
di balik jagat raya
tertidur dongeng-dongeng
siapa yang tahu jalannya
siapa yang tahu kuncinya
kami anak-anak
menanti
Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.
Rumah
Oleh: Rosa Ausländer
Adalah
memiliki rumah
Di dalam kayu lapuk
semut-semut
membangun negara
jalannya tersusun dari usaha dan kayu
Kerang mutiara
terbilas di tepi pantai
tak berguna
bagi hiasan dinding
Di manapun kota
menuju ketiadaan
kami meletakannya di atas besi
Karena rumah kami
tiada
Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.
Adalah
memiliki rumah
Di dalam kayu lapuk
semut-semut
membangun negara
jalannya tersusun dari usaha dan kayu
Kerang mutiara
terbilas di tepi pantai
tak berguna
bagi hiasan dinding
Di manapun kota
menuju ketiadaan
kami meletakannya di atas besi
Karena rumah kami
tiada
Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.
Sunday, February 23, 2014
Daun Pohon
Oleh: Rosa Ausländer
Daun pohon
mirip seperti dari hutan
kota asalku
terbang ke dalam kamarku
Ia datang
menghiburku
Di kala muda di sana
jadi tempat merenung
di sana tinggal kawan dan gunung
yang hilang
Serat urat pohon yang halus
persembahan
untukku
Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.
Daun pohon
mirip seperti dari hutan
kota asalku
terbang ke dalam kamarku
Ia datang
menghiburku
Di kala muda di sana
jadi tempat merenung
di sana tinggal kawan dan gunung
yang hilang
Serat urat pohon yang halus
persembahan
untukku
Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.
Korban
Oleh: Rosa Ausländer
Di dalam sel yang gelap
yang ada hanya angan-angan
Barangsiapa telah memakannya
dari pancing
Tangan yang keras
mengusir malaikat
yang ingin membawa
sebuah bunga
Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.
Di dalam sel yang gelap
yang ada hanya angan-angan
Barangsiapa telah memakannya
dari pancing
Tangan yang keras
mengusir malaikat
yang ingin membawa
sebuah bunga
Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.
Menjual
Oleh: Rosa Ausländer
Di musim semi
kujual
bunga violet
dari surga yang hilang
di musim panas
bunga mawar kertas
bunga aster dari kata
di musim gugur
di musim dingin
bunga es dari jendela
ibuku yang mati
sehingga aku hidup
di kala siang di belakang
malam hari
malam
yang kupuja
bulan dan bintang
sampai matahari terbit
dan menjualku
di kala siang hari
Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.
Di musim semi
kujual
bunga violet
dari surga yang hilang
di musim panas
bunga mawar kertas
bunga aster dari kata
di musim gugur
di musim dingin
bunga es dari jendela
ibuku yang mati
sehingga aku hidup
di kala siang di belakang
malam hari
malam
yang kupuja
bulan dan bintang
sampai matahari terbit
dan menjualku
di kala siang hari
Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.
Wednesday, February 19, 2014
Di Depan Balkonku
Oleh: Rosa Ausländer
Setengah lingkaran air
menari tanpa henti
Berulang-ulang
gerakan tangan monoton
hingga larut malam
Pohon Papel
menggoyang ujung kepala
saat percakapan dengan angin
Mata kecilku
menangkap pementasan megah itu
bermain-main dengan makhluk hidup
Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.
Setengah lingkaran air
menari tanpa henti
Berulang-ulang
gerakan tangan monoton
hingga larut malam
Pohon Papel
menggoyang ujung kepala
saat percakapan dengan angin
Mata kecilku
menangkap pementasan megah itu
bermain-main dengan makhluk hidup
Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.
Musim Gugur
Oleh: Rosa Ausländer
Juga di musim gugur
bernyanyilah burung-burung
masyarakat pilihan
Kita pemakai topeng
lupa
mendengar
percakapan burung Amsel
dan senandungnya
Musim gugur
musim yang ramah
Taruh kamarmu
di dalam kerangka
waktu
Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.
Juga di musim gugur
bernyanyilah burung-burung
masyarakat pilihan
Kita pemakai topeng
lupa
mendengar
percakapan burung Amsel
dan senandungnya
Musim gugur
musim yang ramah
Taruh kamarmu
di dalam kerangka
waktu
Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.
Bumi Hijau Coklat
Oleh: Rosa Ausländer
Hijau bumi
mengajari kita
kata-kata bijak
untuk hari-hari
yang mengerikan
Ketika seorang teman mati
dan kesedihan
melanda hati
Ketika kita terjatuh
tak mampu berdiri
di atas bumi coklat pekat
Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.
Hijau bumi
mengajari kita
kata-kata bijak
untuk hari-hari
yang mengerikan
Ketika seorang teman mati
dan kesedihan
melanda hati
Ketika kita terjatuh
tak mampu berdiri
di atas bumi coklat pekat
Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.
Kau Bergembira
Oleh: Rosa Ausländer
Pohon Akasia mengeluarkan darah
burung Amsel dan kupu-kupu
anak-anak sedang berdendang
Kau bergembira
karena wangi seorang narsis
mendengar
nafas hidupnya
di dalam nafasmu
Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.
Pohon Akasia mengeluarkan darah
burung Amsel dan kupu-kupu
anak-anak sedang berdendang
Kau bergembira
karena wangi seorang narsis
mendengar
nafas hidupnya
di dalam nafasmu
Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.
Mau Kemana Aku?
Oleh: Riva Julianto
Depok 1992
Jiwa kalap tatkala gelap
mendekap.
Hati mengerang karena kau
tak datang.
Rasaku merajang tahu
segala bimbang.
Pikirku nyinyir tak
pernah berakhir :
Mau kemana aku ?
Sebuah Kerinduan
Oleh: Riva Julianto
Cimanggis 1995
Hujan yang segera datang
adalah rintik-rintik air
yang jatuh ke bumi
dan kemudian pudar lagi.
Indah nian menjelang
kematian.
Sebuah kerinduan
mengambang,
Lalu hanyut ke laut dan tersangkut
pada karang yang
menjulang.
Kemudian datang ombak
besar
Yang segera mencerai-beraikannya.
Mawar Merah
Oleh: Riva Julianto
setangkai mawar merah
yang tadinya menghias
indah,
sekarang harus
mengucurkan darah
duri yang menjaganya
sedang marah,
karena seorang bidaah
memegangnya dengan keras
dan tergesa-gesa
Cimanggis 1995
Sebuah Kebebasan
Oleh: Riva Julianto
Seekor ikan
berenang-renang sesukanya,
tiba-tiba terkurung di
dalam akuarium
dengan hiasan alam bawah
lautnya.
Burung yang biasa
memangsanya
dan terbang ke mana suka,
tiba-tiba berada di dalam
sangkar.
Kini ia harus rela dengan
makanan
yang telah tersedia di
hadapannya
Udara yang tak mau
menunjukan dirinya
tiba-tiba dipaksa manusia
untuk
menampakan dan
mengenalkan jatidirinya
ia lambang kebebasan bagi
siapa saja
dengan bentuknya yang tak
kentara
adalah balon udara yang
menunjukannya
adalah nafas yang
menghelanya
adalah taufan yang
mencelakakannya
Cimanggis 10.4.95
Subscribe to:
Posts (Atom)