Tuesday, August 30, 2011

Penyebut


Oleh: Riva Julianto




Malang benar kau penyebut

tak mau bersambut manusia.

Dirimu tak juga mampu

menghindar dari para

pengingkar.


Kau anggap dirimu tegap

tetapi tak bernyali di

hadapan para begawan.


Rendah dalam sumpah

tinggi di antara kurcaci.


Depok 1992

Angin


Oleh: Riva Julianto



Bila angin ingin berangin-angin
tidak boleh awan melawan, tidak
juga angkasa raya. Angin ingin
semua yang beraga tidak bicara.

Bila angin sedang dingin bekulah
seluruh gerak, tak berderak dan
tak bersorak,karena terdepak dari
awang-awang penggerak.

Kalau angin sedang berang takut
segala kabut menghadapi yang
tak kenal mati, menerjang terus
sampai meradang.




Depok 1992

Jembatan Tua


Oleh: Riva Julianto



Jembatan rapuh mengeluh
pada orang-orang yang lalu-lalang
pada ban-ban yang berjalan
pada beban yang menekan
pada rangka yang menjadi tua.

Jembatan tua tak lagi tertawa
pada orang-orang yang tergesa-gesa
pada ban-ban yang lamban
pada beban yang diemban
pada rangka yang murka.

Jembatan tua berderak-derak
tanda tak lagi layak
bagi berat di pundak
yang telah merebak.



Cimanggis 1992

Jiwa


Oleh: Riva Julianto




Gelap dunia menjadi terang raga

disingkap penjagal-penjagal susila

yang bergelora dirundung sangkakala.

Melaju maju mendera jera

untuk menghidari segala

jiwa binasa dalam dunia

tak bernyawa.




Depok 1992

Gelap


Oleh: Riva Julianto



Harapku tak berhenti ditengah manusia mati.
Jalan tak ada aku pun mengaku ragu agar
gelap besuka ria mendengarkan rintihan
penyapu ragu.

Jangan biarkan ia bersua dengan dirinya
sendiri, karena semua yang kau minta
tak ada dalam kelamku.



Depok 17.5.1992