Oleh: Riva Julianto
Pelan-pelan kutiup muka manisnya.
Lalu terbukalah mata lentiknya menyapa
jiwa yang sedari dulu membisu tatkala
melihat wajahnya yang membeku.
Meleleh wajah itu terbakar rasa
yang menggelora bila melihat matanya
tersulut api nurani yang menjilati
kaki sampai ujung rambutnya. Tampaklah
pula kering-kerontang kasih sayang yang
berhamburan menerjang semua kenangan
yang ditimbunnya dalam-dalam.
Takkan pernah kusesali apa yang telah
dilakukannya ketika dipeluknya semua
durjana bermuka dua di atas ranjang
tempat tidurnya. Seluruh nestapa dan
duka adalah bantal dan gulingnya.
No comments:
Post a Comment