Saturday, September 24, 2011

Kaum Proletar


Oleh: Riva Julianto



Kaum proletar adalah kaum penyabar

yang menerima keadaan yang sudah

mengakar dan sukar untuk dibongkar

demi keinginan sejajar yang dianggap

makar.


Kaum proletar tak mau ingkar pada

negara dan pembesar yang telah berikrar

berjuang demi kaum terlantar yang nyatanya

malah diperlakukan kasar dan dikejar-kejar.


Mereka menjadi kelakar para pakar yang

hanya bisa berkomentar dan menjadikannya

bahan nalar tanpa pernah tahu yang benar.


Walau harus bekerja kasar kaum proletar

tetap tegar menghadapi segala gusar akibat

dunia yang berputar membakar semua sabar.

Hidup


Oleh: Riva Julianto



Jiwa yang tak menentu kapan
datang dan pergi memaku kalbu
dalam hidup yang penuh kesemuan.

Hidup bukan melulu glamor dan
pamor, karena ia kotor oleh
indahnya impian-impian horor.

Hidup tak dapat dimengerti
apa yang hendak dicarinya.

Apakah kenikmatan duniawi
atau juga melimpahnya materi
untuk bekal di akhirat nanti.

Hidup yang hanya sesaat ini
janganlah dilambati hanya
karena nikmat-nikmat ragawi.

Hidup adalah mentari pagi
kala kita terurapi cahaya
manusiawi, hidup adalah
mentari senja kala kita
bertanya: Mau kemanakah
manusia setelah jiwanya pergi ?

Tuhanku


Oleh: Riva Julianto



Tuhanku adalah tuan yang

tak suka stan dan segala

kebatilan, karena Ia

adalah misteri kebenaran.


Tuhanku memang kebenaran yang

bukan kepastian , karena Ia

berbeda setiap jaman menurut

kepercayaan iman.


Tuhanku punya besaran yang

mengikatnya dalam kegelapan

agar manusia tetap berperan

sebagai pejuang kebebasan.


Tuhanku jadi dambaan orang-

orang buangan yang tidak tahan

menghadapi godaan dalam merentang

jalan kehidupan.


Tuhanku dalam kebimbangan menghadapi

semua perpecahan yang mengancam kejiwaan

manusia yang mengaku pahlawan.

Jiwa Kalap


Oleh: Riva Julianto




Manusia megap-megap dalam dunia pengap

dan gelap karena hilang semua adab

yang dulu dianggap cakap. Kini,

terkikis dan terjerembab tak

bisa lagi berdiri tegap yang

membuatnya kalap, menyergap

nafsu tanpa sebab.


Jiwa ikut menyelinap, menghindar

semua perangkap kata-kata yang

terungkap sebagai pelengkap

hidup yang telah lenyap.


Hati menjadi ajab melihat

dunia yang sembab dirundung

segenap ratap yang telah

meresap ke dalam jiwa kalap.

Kebenaran 2


Oleh: Riva Julianto



Secercah kebenaran yang merekah

akan selalu membuat goyah keimanan

dalam darah para kalifah dan khalikah,

karena merajah apa yang sudah disembah,

karena menjarah daerah-daerah bertuah,

karena menyepah ramah jadi amarah,

karena merubah apa yang sudah absah,

karena membuat orang serakah.


Tak usah kau menengadah mencari kebenaran

di tengah lunglainya langkah-langkah kehidupan

yang bersejarah, karena hanya ada kesah manusia

penziarah yang sudah lelah dan payah.