Oleh : Rosa Ausländer
Jika kupikirkan
betapa banyak kata yang hilang
betapa sedikit yang tinggal di telinga bumi
dan juga ada di pendengaranku
Jika kau pikirkan
hanya ada sedikit
Ada kata-kata
udara ini untuk bernafas
mereka dan aku
Jika kupikirkan
ada kata-kata
kami
indah
bersama
kuingin mereka
ikut serta bersamamu
Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.
Ketika mulut tak bisa dipercaya, maka hati yang bicara. Ketika mata tak bisa melihat kebenaran, maka hati yang melihat kenyataan.
Wednesday, April 16, 2014
Tiada Bukti
Oleh : Rosa Ausländer
Di kerajaan udara
bernafaslah puisi
Dengan ratusan tangan
memeluk pertunjukan
Api dan air
kita bakar, kita padamkan
sepanjang waktu
Tak bertepi mata kita
bahasa keheningan dan bintang
Berumah di dalam kata
dari metamorfosa
Kita tak butuh bukti
bahwa kita hidup
Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.
Di kerajaan udara
bernafaslah puisi
Dengan ratusan tangan
memeluk pertunjukan
Api dan air
kita bakar, kita padamkan
sepanjang waktu
Tak bertepi mata kita
bahasa keheningan dan bintang
Berumah di dalam kata
dari metamorfosa
Kita tak butuh bukti
bahwa kita hidup
Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.
Tidak Indah
Oleh : Rosa Ausländer
Tidaklah indah
mengetahui mengapa
di bawah mentari
mawar penuh berduri
Di dalam bayang-bayang
berkumpul sekawanan
srigala
Tidaklah indah
mengetahui mengapa
Salju terkubur
rerumputan menghirupnya
di bawah salju
di bawah mentari
Entah mengapa
terbuka
Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.
Tidaklah indah
mengetahui mengapa
di bawah mentari
mawar penuh berduri
Di dalam bayang-bayang
berkumpul sekawanan
srigala
Tidaklah indah
mengetahui mengapa
Salju terkubur
rerumputan menghirupnya
di bawah salju
di bawah mentari
Entah mengapa
terbuka
Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.
Jika Kau Mau
Oleh : Rosa Ausländer
Jika kau ingin
pohon putih bisa
punya mata nan lembut
Hujan akan
memadamkan api hitam
bayang-bayang di belakangmu
dan bayang-bayang di depanmu
menjadi pohon
Jikau kau ingin
burung, bunga akan
akan memasukkan kepalanya ke pasir
Dewi Maia takkan bersedih
bayang-bayang di depanmu
dan bayang-bayang di belakangmu
akan melepaskan seragamnya
Dan pohon putih
akan menciptakan mata
karena kau percaya padanya
Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.
Jika kau ingin
pohon putih bisa
punya mata nan lembut
Hujan akan
memadamkan api hitam
bayang-bayang di belakangmu
dan bayang-bayang di depanmu
menjadi pohon
Jikau kau ingin
burung, bunga akan
akan memasukkan kepalanya ke pasir
Dewi Maia takkan bersedih
bayang-bayang di depanmu
dan bayang-bayang di belakangmu
akan melepaskan seragamnya
Dan pohon putih
akan menciptakan mata
karena kau percaya padanya
Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.
Kembali I
Sebuah kereta berjalan
melintasi selku
Pelancong-pelancong menyapaku
melambaikan tangan
selamat jalan
Kuikuti mereka
ke gunung
ke laut
Mendaki Rareu
bersama teman-teman yang hilang
Mandi di pantai
di sebuah pulau baru
Anakku yang tak pernah lahir
melempar bola kepadaku
kutangkap
Seorang laki-laki hitam menaruh
bayang-bayang di depan langkahku
Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.
melintasi selku
Pelancong-pelancong menyapaku
melambaikan tangan
selamat jalan
Kuikuti mereka
ke gunung
ke laut
Mendaki Rareu
bersama teman-teman yang hilang
Mandi di pantai
di sebuah pulau baru
Anakku yang tak pernah lahir
melempar bola kepadaku
kutangkap
Seorang laki-laki hitam menaruh
bayang-bayang di depan langkahku
Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.
Jangan Tertidur
Oleh : Rosa Ausländer
Dari guntur terbawa
bintang bertato
jangan tertidur
saat berenang
Sebuah kilat membelah
hati mega
yang jatuh ke air
membilas pergi mimpinya
Tepian laut menggeser
setiap kelokan
menuju ketiadaan berikutnya
Jangan tertidur
sewaktu berenang
airnya lemah
Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.
Dari guntur terbawa
bintang bertato
jangan tertidur
saat berenang
Sebuah kilat membelah
hati mega
yang jatuh ke air
membilas pergi mimpinya
Tepian laut menggeser
setiap kelokan
menuju ketiadaan berikutnya
Jangan tertidur
sewaktu berenang
airnya lemah
Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.
Tuesday, April 15, 2014
Menu
Oleh : Rosa Ausländer
Aku kupas hari ini
kacang keras
dari kulitnya
Kacangnya manis-asam
berjam-jam
memberi makan orang kelaparan
Sudah tergantung
bendera hitam
di jendela
Pendulum terbangun
di dalam jam di langit
timbangan bintang-bintang
Siapakah
yang menjarah
buah ceri yang berdarah
Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.
Aku kupas hari ini
kacang keras
dari kulitnya
Kacangnya manis-asam
berjam-jam
memberi makan orang kelaparan
Sudah tergantung
bendera hitam
di jendela
Pendulum terbangun
di dalam jam di langit
timbangan bintang-bintang
Siapakah
yang menjarah
buah ceri yang berdarah
Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.
Keluar
Oleh : Rosa Ausländer
Keluar
kubuka
semua pintu
Dunia
membanjir masuk
keluar membanjir bersamaku
ke pepohonan yang tumbuh
ke saudara-saudaraku yang menderita
Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.
Keluar
kubuka
semua pintu
Dunia
membanjir masuk
keluar membanjir bersamaku
ke pepohonan yang tumbuh
ke saudara-saudaraku yang menderita
Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.
Diterangi
Oleh : Rosa Ausländer
Seberapa cepat
manusia melupakan segalanya
Kotoran burung
jatuh di atas jalan setapak
Biarkan air memancar
dari semua talang
sampai bintang-bintang
berdiri di paluh
di atas dan di bawah
sama saja
Kemudian
sinar terang
rerumputan dan burung Kutilang
seorang manusia
Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.
Seberapa cepat
manusia melupakan segalanya
Kotoran burung
jatuh di atas jalan setapak
Biarkan air memancar
dari semua talang
sampai bintang-bintang
berdiri di paluh
di atas dan di bawah
sama saja
Kemudian
sinar terang
rerumputan dan burung Kutilang
seorang manusia
Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.
Keberuntungan
Oleh : Rosa Ausländer
Di dalam pencarian
daun semanggi bercabang empat,
mengelana matamu
di atas padang rumput
Di kota-kota
tumbuh bebatuan
Juga di Amerika
muncul pulau-pulau daun
Di matamu menghujam
air terjun Niagara
Di mana katakan di mana
bunga kecil itu menumbuhkan
keberuntungan
Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.
Di dalam pencarian
daun semanggi bercabang empat,
mengelana matamu
di atas padang rumput
Di kota-kota
tumbuh bebatuan
Juga di Amerika
muncul pulau-pulau daun
Di matamu menghujam
air terjun Niagara
Di mana katakan di mana
bunga kecil itu menumbuhkan
keberuntungan
Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.
Tumbuh
Oleh : Rosa Ausländer
Dari akar
tumbuh tumbuhan
di antara bebatuan dan daun
Manusia juga tumbuh
dan bercermin
ke dalam mimpinya
Meskipun berat dibawanya
semua korban-korbannya
Cinta
membuatnya tumbuh
di dalam bait
yang seharusnya
tidak tenggelam
Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.
Dari akar
tumbuh tumbuhan
di antara bebatuan dan daun
Manusia juga tumbuh
dan bercermin
ke dalam mimpinya
Meskipun berat dibawanya
semua korban-korbannya
Cinta
membuatnya tumbuh
di dalam bait
yang seharusnya
tidak tenggelam
Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.
Musim Dingin I
Oleh : Rosa Ausländer
Putih adalah
jiwa dari musim dingin
saat semua warna
disatukannya
ke dalam pelangi
putih
Udara dingin
bulu binatang menggigil
Langkahmu menjauh
ke tanah Siberia
Kau menjaga di sini
di kampung halaman
Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.
Putih adalah
jiwa dari musim dingin
saat semua warna
disatukannya
ke dalam pelangi
putih
Udara dingin
bulu binatang menggigil
Langkahmu menjauh
ke tanah Siberia
Kau menjaga di sini
di kampung halaman
Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.
Sunday, April 13, 2014
Di Sebuah Pulau
Oleh : Rosa Ausländer
Unggas-unggas lembayung
menghias musim panas
di hatiku
Aku berada di sebuah pulau
yang tak bertuan
di atas laut tak bertuan
Ikan-ikan mengunjungiku
bicara puisi
aku lelah mengartikannya
Seekor lumba-lumba membawaku
salam dari sahabat-sahabat
mereka mengundangku
yang aku sendiri
tidak dapat berenang
Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.
Unggas-unggas lembayung
menghias musim panas
di hatiku
Aku berada di sebuah pulau
yang tak bertuan
di atas laut tak bertuan
Ikan-ikan mengunjungiku
bicara puisi
aku lelah mengartikannya
Seekor lumba-lumba membawaku
salam dari sahabat-sahabat
mereka mengundangku
yang aku sendiri
tidak dapat berenang
Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.
Sekejap Saja
Oleh : Rosa Ausländer
Biarkanlah demikian
surga
ada di dalam kekuasaan-Mu
aku pun turut serta
hanya sekejap saja
Biarkan aku
menjadi bintang kecil
yang menatap bumi
dengan ketidaksempurnaannya
kesempurnaan
yang sekejap saja
Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.
Biarkanlah demikian
surga
ada di dalam kekuasaan-Mu
aku pun turut serta
hanya sekejap saja
Biarkan aku
menjadi bintang kecil
yang menatap bumi
dengan ketidaksempurnaannya
kesempurnaan
yang sekejap saja
Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.
Subscribe to:
Posts (Atom)