Wednesday, October 10, 2012

Kata Orangtua

Oleh: Riva Julianto





Temanku berkata apa yang ingin didapatkan

dari hidupnya. Tetapi orangtuanya melarang :

" Tak boleh kau bicara tentang jalan panjang

  yang telah kubuatkan untukmu. Jangan kau

  meminta kehidupan lain padaku. Dunia sangat

  kejam, nak !"



Orangtuanya lalu menceritakan masa mudanya yang harus

membuang semua angan-angannya ke dalam periuk makanan.


" Makan nak, kita harus makan enak !" katanya pula.


Cimanggis 20.10.1993

Bidak Dan Budak

Oleh: Riva Julianto





Budak hanyalah sebuah bidak yang entah siapa pemainnya. Bidak

hanyalah budak yang tak punya otak melawan musuhnya.

Budak terikat kontrak majikan yang membelinya.

Bidak terikat kotak tempat bermainnya.

Budak mencoba berontak.


Bidak mencoba mengganti warna dirinya.

Budak dicampakan begitu saja.

Bidak dibuang ke tempat sampah.

Budak adalah manusia.


Bidak adalah permainan berlambang dunia.



Cimanggis 19.10.1993

Dewa Dan Dewi

Oleh: Riva Julianto





Darah yang diperah penggembala dari

dewa-dewi penjaga puri kehidupan,

tumpah-ruah berceceran di jalan

yang membuat riuh-rendah kaum

jelata dan peminta-minta

seraya menengguk dan

meminumnya.



Mereka berteriak memuja-muji dewa-dewi

yang mereka cintai :

" Hosana para dewa dan dewi !"

" Berjayalah dewa dan dewi !"

" Bersemilah dewa dan dewi !"

" Terpujilah dewa dan dewi !"


Dewa dan dewi yang selama ini selalu

memberi mereka makan dan minum sekarang

harus dipuja-puji, karena esok hilang lagi.

Kembali pulang ke kandang membawa mereka yang mati.


Cimanggis 25.1.1993

Yogyakarta

Oleh: Riva Julianto





Wajahmu tak lagi manja oleh desiran

kereta kuda para priyayi dan raja jawa.

Kini tampak kian berbeda setelah kereta
_
kuda berganti baja beroda yang lebih berwibawa.


Pesonamu yang bercampur dengan gaya dunia hanyalah

goresan-goresan  di atas kaleng bekas coca-cola.

Keramahanmu dijajakan pula di pinggir jalan Malioboro.

Manusia-manusianya juga bercanda ria dengan kehidupan

metropolitan yang penuh dengan perlombaan dan kelicikan.

Wisata membayarmu dengan kartu-kartu kredit, cek-cek dan

segala macam uang yang kau anggap pengganti dewa lama.



Wahai Yogyakarta, maukah kau menjadi kota dunia yang

hilang semua kehidupanmu di masa muda ? Apakah kau merasa

rendah di antara manusia kota ?


Yogyakarta 5.12.1992

Oase Kehidupan

Oleh: Riva Julianto





Di kertas ini takkan bisa kugoreskan penderitaan

sekelompok manusia yang mencari nama hantuhan di

dalam pergolakan kebingungan imannya.


Di kertas ini aku hanya bisa mendapatkan kengerian dan keta-

kutan manusia pada kebingungannya sendiri. Seorang kawan

bernama hantuhan menunggu dengan setia di seberang dunia

makna. Ingin aku menemui dan mengajaknya bercanda,

layaknya seorang kesepian di tengah-tengah dunia maya dan

nyata. Tetapi tetap saja ia tak mau menampakan

bentuk dan rupanya hingga aku tak tahu apa jenis

kelaminnya.


Akhirnya kubuatkan ia oase di padang pasir

sebagai fatamorgana manusia yang kehausan.

 

Cimanggis 3.2.1993