Manusia tunggang-langgang
mencari penguasa
memohon ampun dan cinta
supaya bisa merasa
lega menghadapi segala
siksa dan penjara.
Dan terhindarlah mereka
dari neraka yang
hina, tempat orang
membuang cela dan nodanya.
Surga yang terbayang di
depan mata pun
tak mau menerima
tangan-tangan terajang
yang berusaha
menggapainya. Di sanalah
penguasa bekerja
memeriksa awal peristiwa
sampai akhir cerita.
Mereka yang tidak percaya
pada penguasa harus
ke mana pula jiwa dan
raganya dikorbankan
hanya karena mereka
menuntut tindakan nyata
Penguasa yang diam seribu
bahasa
membuat mereka semakin
menderita
dan tersiksa batinnya.
Haruskah mereka didera
juga hanya
karena tuntutan nyata ?
Depok 20.6.1992
No comments:
Post a Comment