Oleh : Rosa Ausländer
Jika kupikirkan
betapa banyak kata yang hilang
betapa sedikit yang tinggal di telinga bumi
dan juga ada di pendengaranku
Jika kau pikirkan
hanya ada sedikit
Ada kata-kata
udara ini untuk bernafas
mereka dan aku
Jika kupikirkan
ada kata-kata
kami
indah
bersama
kuingin mereka
ikut serta bersamamu
Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.
Ketika mulut tak bisa dipercaya, maka hati yang bicara. Ketika mata tak bisa melihat kebenaran, maka hati yang melihat kenyataan.
Wednesday, April 16, 2014
Tiada Bukti
Oleh : Rosa Ausländer
Di kerajaan udara
bernafaslah puisi
Dengan ratusan tangan
memeluk pertunjukan
Api dan air
kita bakar, kita padamkan
sepanjang waktu
Tak bertepi mata kita
bahasa keheningan dan bintang
Berumah di dalam kata
dari metamorfosa
Kita tak butuh bukti
bahwa kita hidup
Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.
Di kerajaan udara
bernafaslah puisi
Dengan ratusan tangan
memeluk pertunjukan
Api dan air
kita bakar, kita padamkan
sepanjang waktu
Tak bertepi mata kita
bahasa keheningan dan bintang
Berumah di dalam kata
dari metamorfosa
Kita tak butuh bukti
bahwa kita hidup
Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.
Tidak Indah
Oleh : Rosa Ausländer
Tidaklah indah
mengetahui mengapa
di bawah mentari
mawar penuh berduri
Di dalam bayang-bayang
berkumpul sekawanan
srigala
Tidaklah indah
mengetahui mengapa
Salju terkubur
rerumputan menghirupnya
di bawah salju
di bawah mentari
Entah mengapa
terbuka
Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.
Tidaklah indah
mengetahui mengapa
di bawah mentari
mawar penuh berduri
Di dalam bayang-bayang
berkumpul sekawanan
srigala
Tidaklah indah
mengetahui mengapa
Salju terkubur
rerumputan menghirupnya
di bawah salju
di bawah mentari
Entah mengapa
terbuka
Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.
Jika Kau Mau
Oleh : Rosa Ausländer
Jika kau ingin
pohon putih bisa
punya mata nan lembut
Hujan akan
memadamkan api hitam
bayang-bayang di belakangmu
dan bayang-bayang di depanmu
menjadi pohon
Jikau kau ingin
burung, bunga akan
akan memasukkan kepalanya ke pasir
Dewi Maia takkan bersedih
bayang-bayang di depanmu
dan bayang-bayang di belakangmu
akan melepaskan seragamnya
Dan pohon putih
akan menciptakan mata
karena kau percaya padanya
Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.
Jika kau ingin
pohon putih bisa
punya mata nan lembut
Hujan akan
memadamkan api hitam
bayang-bayang di belakangmu
dan bayang-bayang di depanmu
menjadi pohon
Jikau kau ingin
burung, bunga akan
akan memasukkan kepalanya ke pasir
Dewi Maia takkan bersedih
bayang-bayang di depanmu
dan bayang-bayang di belakangmu
akan melepaskan seragamnya
Dan pohon putih
akan menciptakan mata
karena kau percaya padanya
Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.
Kembali I
Sebuah kereta berjalan
melintasi selku
Pelancong-pelancong menyapaku
melambaikan tangan
selamat jalan
Kuikuti mereka
ke gunung
ke laut
Mendaki Rareu
bersama teman-teman yang hilang
Mandi di pantai
di sebuah pulau baru
Anakku yang tak pernah lahir
melempar bola kepadaku
kutangkap
Seorang laki-laki hitam menaruh
bayang-bayang di depan langkahku
Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.
melintasi selku
Pelancong-pelancong menyapaku
melambaikan tangan
selamat jalan
Kuikuti mereka
ke gunung
ke laut
Mendaki Rareu
bersama teman-teman yang hilang
Mandi di pantai
di sebuah pulau baru
Anakku yang tak pernah lahir
melempar bola kepadaku
kutangkap
Seorang laki-laki hitam menaruh
bayang-bayang di depan langkahku
Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.
Jangan Tertidur
Oleh : Rosa Ausländer
Dari guntur terbawa
bintang bertato
jangan tertidur
saat berenang
Sebuah kilat membelah
hati mega
yang jatuh ke air
membilas pergi mimpinya
Tepian laut menggeser
setiap kelokan
menuju ketiadaan berikutnya
Jangan tertidur
sewaktu berenang
airnya lemah
Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.
Dari guntur terbawa
bintang bertato
jangan tertidur
saat berenang
Sebuah kilat membelah
hati mega
yang jatuh ke air
membilas pergi mimpinya
Tepian laut menggeser
setiap kelokan
menuju ketiadaan berikutnya
Jangan tertidur
sewaktu berenang
airnya lemah
Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.
Tuesday, April 15, 2014
Menu
Oleh : Rosa Ausländer
Aku kupas hari ini
kacang keras
dari kulitnya
Kacangnya manis-asam
berjam-jam
memberi makan orang kelaparan
Sudah tergantung
bendera hitam
di jendela
Pendulum terbangun
di dalam jam di langit
timbangan bintang-bintang
Siapakah
yang menjarah
buah ceri yang berdarah
Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.
Aku kupas hari ini
kacang keras
dari kulitnya
Kacangnya manis-asam
berjam-jam
memberi makan orang kelaparan
Sudah tergantung
bendera hitam
di jendela
Pendulum terbangun
di dalam jam di langit
timbangan bintang-bintang
Siapakah
yang menjarah
buah ceri yang berdarah
Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.
Keluar
Oleh : Rosa Ausländer
Keluar
kubuka
semua pintu
Dunia
membanjir masuk
keluar membanjir bersamaku
ke pepohonan yang tumbuh
ke saudara-saudaraku yang menderita
Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.
Keluar
kubuka
semua pintu
Dunia
membanjir masuk
keluar membanjir bersamaku
ke pepohonan yang tumbuh
ke saudara-saudaraku yang menderita
Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.
Diterangi
Oleh : Rosa Ausländer
Seberapa cepat
manusia melupakan segalanya
Kotoran burung
jatuh di atas jalan setapak
Biarkan air memancar
dari semua talang
sampai bintang-bintang
berdiri di paluh
di atas dan di bawah
sama saja
Kemudian
sinar terang
rerumputan dan burung Kutilang
seorang manusia
Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.
Seberapa cepat
manusia melupakan segalanya
Kotoran burung
jatuh di atas jalan setapak
Biarkan air memancar
dari semua talang
sampai bintang-bintang
berdiri di paluh
di atas dan di bawah
sama saja
Kemudian
sinar terang
rerumputan dan burung Kutilang
seorang manusia
Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.
Keberuntungan
Oleh : Rosa Ausländer
Di dalam pencarian
daun semanggi bercabang empat,
mengelana matamu
di atas padang rumput
Di kota-kota
tumbuh bebatuan
Juga di Amerika
muncul pulau-pulau daun
Di matamu menghujam
air terjun Niagara
Di mana katakan di mana
bunga kecil itu menumbuhkan
keberuntungan
Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.
Di dalam pencarian
daun semanggi bercabang empat,
mengelana matamu
di atas padang rumput
Di kota-kota
tumbuh bebatuan
Juga di Amerika
muncul pulau-pulau daun
Di matamu menghujam
air terjun Niagara
Di mana katakan di mana
bunga kecil itu menumbuhkan
keberuntungan
Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.
Tumbuh
Oleh : Rosa Ausländer
Dari akar
tumbuh tumbuhan
di antara bebatuan dan daun
Manusia juga tumbuh
dan bercermin
ke dalam mimpinya
Meskipun berat dibawanya
semua korban-korbannya
Cinta
membuatnya tumbuh
di dalam bait
yang seharusnya
tidak tenggelam
Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.
Dari akar
tumbuh tumbuhan
di antara bebatuan dan daun
Manusia juga tumbuh
dan bercermin
ke dalam mimpinya
Meskipun berat dibawanya
semua korban-korbannya
Cinta
membuatnya tumbuh
di dalam bait
yang seharusnya
tidak tenggelam
Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.
Musim Dingin I
Oleh : Rosa Ausländer
Putih adalah
jiwa dari musim dingin
saat semua warna
disatukannya
ke dalam pelangi
putih
Udara dingin
bulu binatang menggigil
Langkahmu menjauh
ke tanah Siberia
Kau menjaga di sini
di kampung halaman
Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.
Putih adalah
jiwa dari musim dingin
saat semua warna
disatukannya
ke dalam pelangi
putih
Udara dingin
bulu binatang menggigil
Langkahmu menjauh
ke tanah Siberia
Kau menjaga di sini
di kampung halaman
Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.
Sunday, April 13, 2014
Di Sebuah Pulau
Oleh : Rosa Ausländer
Unggas-unggas lembayung
menghias musim panas
di hatiku
Aku berada di sebuah pulau
yang tak bertuan
di atas laut tak bertuan
Ikan-ikan mengunjungiku
bicara puisi
aku lelah mengartikannya
Seekor lumba-lumba membawaku
salam dari sahabat-sahabat
mereka mengundangku
yang aku sendiri
tidak dapat berenang
Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.
Unggas-unggas lembayung
menghias musim panas
di hatiku
Aku berada di sebuah pulau
yang tak bertuan
di atas laut tak bertuan
Ikan-ikan mengunjungiku
bicara puisi
aku lelah mengartikannya
Seekor lumba-lumba membawaku
salam dari sahabat-sahabat
mereka mengundangku
yang aku sendiri
tidak dapat berenang
Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.
Sekejap Saja
Oleh : Rosa Ausländer
Biarkanlah demikian
surga
ada di dalam kekuasaan-Mu
aku pun turut serta
hanya sekejap saja
Biarkan aku
menjadi bintang kecil
yang menatap bumi
dengan ketidaksempurnaannya
kesempurnaan
yang sekejap saja
Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.
Biarkanlah demikian
surga
ada di dalam kekuasaan-Mu
aku pun turut serta
hanya sekejap saja
Biarkan aku
menjadi bintang kecil
yang menatap bumi
dengan ketidaksempurnaannya
kesempurnaan
yang sekejap saja
Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.
Saturday, March 1, 2014
Bermain II
Oleh : Rosa Ausländer
Kehidupan
mempermainkan kita
Kita berjalan
di atas jalan yang berair
Kita minum
apa yang ada
Kita mencintai
cinta
Kata mempermainkan
kehidupan
Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.
Kehidupan
mempermainkan kita
Kita berjalan
di atas jalan yang berair
Kita minum
apa yang ada
Kita mencintai
cinta
Kata mempermainkan
kehidupan
Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.
Friday, February 28, 2014
Kau Bergembira
Oleh: Rosa Ausländer
Pohon akasia berdarah
burung amsel, kupu-kupu
anak-anak sedang menyanyi
Kau bergembira
karena bau seorang narsis
Mendengar
nafas kehidupan
di dalam nafasmu
Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.
Pohon akasia berdarah
burung amsel, kupu-kupu
anak-anak sedang menyanyi
Kau bergembira
karena bau seorang narsis
Mendengar
nafas kehidupan
di dalam nafasmu
Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.
Misteri
Oleh : Rosa Ausländer
Jiwa sebuah benda
biarlah kuduga
keanehan
bumi yang takkan berhenti
Dengan rasa takut
kucari wajah
semua benda
dan kutemukan di dalamnya
misteri
Rahasia berbicara padaku
dengan bahasa yang hidup
Kudengar hati surgawi
mengetuk-ngetuk
di dalam hatiku
Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.
Jiwa sebuah benda
biarlah kuduga
keanehan
bumi yang takkan berhenti
Dengan rasa takut
kucari wajah
semua benda
dan kutemukan di dalamnya
misteri
Rahasia berbicara padaku
dengan bahasa yang hidup
Kudengar hati surgawi
mengetuk-ngetuk
di dalam hatiku
Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.
Pujian
Oleh: Rosa Ausländer.
Pujian
bumi
dan keajaiban yang tak pernah berhenti
Matahari bulan gugusan bintang
dan apa yang berdiri
di belakangnya
Persaudaraan manusia
terekam
di dalam wadah hati
keabadian kecil kami
Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.
Pujian
bumi
dan keajaiban yang tak pernah berhenti
Matahari bulan gugusan bintang
dan apa yang berdiri
di belakangnya
Persaudaraan manusia
terekam
di dalam wadah hati
keabadian kecil kami
Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.
Musim Panas
Oleh: Rosa Ausländer.
Hijaunya
daun tak pernah bisa ditebak
pohon papel
dibelai angin
Matahari
membuka pintunya
Masuklah
warna-warni jiwa
ke dalam jejaring udara
Saudara perempuan yang tak pernah lahir
melambaikan salam cinta dan isyarat
Siapakah menyanyikan
burung-burung impian
di atas pohon papel
*Papel (Populus): sejenis pohon sangat tinggi dan besar
Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.
Hijaunya
daun tak pernah bisa ditebak
pohon papel
dibelai angin
Matahari
membuka pintunya
Masuklah
warna-warni jiwa
ke dalam jejaring udara
Saudara perempuan yang tak pernah lahir
melambaikan salam cinta dan isyarat
Siapakah menyanyikan
burung-burung impian
di atas pohon papel
*Papel (Populus): sejenis pohon sangat tinggi dan besar
Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.
Matahari II
Oleh: Rosa Ausländer
Sore hari
muncul matahari
ke dalam kamar
Semuanya berubah
keemasan
hangatnya bagian hidup ini
kekayaan emas ini
Kubiarkan bendera emas menyala
berkibar di atas menara
mimpiku
Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.
Sore hari
muncul matahari
ke dalam kamar
Semuanya berubah
keemasan
hangatnya bagian hidup ini
kekayaan emas ini
Kubiarkan bendera emas menyala
berkibar di atas menara
mimpiku
Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.
Bumi Datar
Oleh: Rosa Ausländer
Puncak pegunungan
yang memutih ini
di negeri tak ada peperangan
aku mendaki puncaknya
dan dunia
menjejakan kaki
Kini
bumi datar
dan kakinya
terdiam
Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.
Puncak pegunungan
yang memutih ini
di negeri tak ada peperangan
aku mendaki puncaknya
dan dunia
menjejakan kaki
Kini
bumi datar
dan kakinya
terdiam
Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.
Dongeng
Oleh : Rosa Ausländer
di balik jagat raya
tertidur dongeng-dongeng
siapa yang tahu jalannya
siapa yang tahu kuncinya
kami anak-anak
menanti
Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.
Rumah
Oleh: Rosa Ausländer
Adalah
memiliki rumah
Di dalam kayu lapuk
semut-semut
membangun negara
jalannya tersusun dari usaha dan kayu
Kerang mutiara
terbilas di tepi pantai
tak berguna
bagi hiasan dinding
Di manapun kota
menuju ketiadaan
kami meletakannya di atas besi
Karena rumah kami
tiada
Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.
Adalah
memiliki rumah
Di dalam kayu lapuk
semut-semut
membangun negara
jalannya tersusun dari usaha dan kayu
Kerang mutiara
terbilas di tepi pantai
tak berguna
bagi hiasan dinding
Di manapun kota
menuju ketiadaan
kami meletakannya di atas besi
Karena rumah kami
tiada
Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.
Sunday, February 23, 2014
Daun Pohon
Oleh: Rosa Ausländer
Daun pohon
mirip seperti dari hutan
kota asalku
terbang ke dalam kamarku
Ia datang
menghiburku
Di kala muda di sana
jadi tempat merenung
di sana tinggal kawan dan gunung
yang hilang
Serat urat pohon yang halus
persembahan
untukku
Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.
Daun pohon
mirip seperti dari hutan
kota asalku
terbang ke dalam kamarku
Ia datang
menghiburku
Di kala muda di sana
jadi tempat merenung
di sana tinggal kawan dan gunung
yang hilang
Serat urat pohon yang halus
persembahan
untukku
Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.
Korban
Oleh: Rosa Ausländer
Di dalam sel yang gelap
yang ada hanya angan-angan
Barangsiapa telah memakannya
dari pancing
Tangan yang keras
mengusir malaikat
yang ingin membawa
sebuah bunga
Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.
Di dalam sel yang gelap
yang ada hanya angan-angan
Barangsiapa telah memakannya
dari pancing
Tangan yang keras
mengusir malaikat
yang ingin membawa
sebuah bunga
Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.
Menjual
Oleh: Rosa Ausländer
Di musim semi
kujual
bunga violet
dari surga yang hilang
di musim panas
bunga mawar kertas
bunga aster dari kata
di musim gugur
di musim dingin
bunga es dari jendela
ibuku yang mati
sehingga aku hidup
di kala siang di belakang
malam hari
malam
yang kupuja
bulan dan bintang
sampai matahari terbit
dan menjualku
di kala siang hari
Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.
Di musim semi
kujual
bunga violet
dari surga yang hilang
di musim panas
bunga mawar kertas
bunga aster dari kata
di musim gugur
di musim dingin
bunga es dari jendela
ibuku yang mati
sehingga aku hidup
di kala siang di belakang
malam hari
malam
yang kupuja
bulan dan bintang
sampai matahari terbit
dan menjualku
di kala siang hari
Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.
Wednesday, February 19, 2014
Di Depan Balkonku
Oleh: Rosa Ausländer
Setengah lingkaran air
menari tanpa henti
Berulang-ulang
gerakan tangan monoton
hingga larut malam
Pohon Papel
menggoyang ujung kepala
saat percakapan dengan angin
Mata kecilku
menangkap pementasan megah itu
bermain-main dengan makhluk hidup
Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.
Setengah lingkaran air
menari tanpa henti
Berulang-ulang
gerakan tangan monoton
hingga larut malam
Pohon Papel
menggoyang ujung kepala
saat percakapan dengan angin
Mata kecilku
menangkap pementasan megah itu
bermain-main dengan makhluk hidup
Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.
Musim Gugur
Oleh: Rosa Ausländer
Juga di musim gugur
bernyanyilah burung-burung
masyarakat pilihan
Kita pemakai topeng
lupa
mendengar
percakapan burung Amsel
dan senandungnya
Musim gugur
musim yang ramah
Taruh kamarmu
di dalam kerangka
waktu
Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.
Juga di musim gugur
bernyanyilah burung-burung
masyarakat pilihan
Kita pemakai topeng
lupa
mendengar
percakapan burung Amsel
dan senandungnya
Musim gugur
musim yang ramah
Taruh kamarmu
di dalam kerangka
waktu
Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.
Bumi Hijau Coklat
Oleh: Rosa Ausländer
Hijau bumi
mengajari kita
kata-kata bijak
untuk hari-hari
yang mengerikan
Ketika seorang teman mati
dan kesedihan
melanda hati
Ketika kita terjatuh
tak mampu berdiri
di atas bumi coklat pekat
Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.
Hijau bumi
mengajari kita
kata-kata bijak
untuk hari-hari
yang mengerikan
Ketika seorang teman mati
dan kesedihan
melanda hati
Ketika kita terjatuh
tak mampu berdiri
di atas bumi coklat pekat
Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.
Kau Bergembira
Oleh: Rosa Ausländer
Pohon Akasia mengeluarkan darah
burung Amsel dan kupu-kupu
anak-anak sedang berdendang
Kau bergembira
karena wangi seorang narsis
mendengar
nafas hidupnya
di dalam nafasmu
Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.
Pohon Akasia mengeluarkan darah
burung Amsel dan kupu-kupu
anak-anak sedang berdendang
Kau bergembira
karena wangi seorang narsis
mendengar
nafas hidupnya
di dalam nafasmu
Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.
Mau Kemana Aku?
Oleh: Riva Julianto
Depok 1992
Jiwa kalap tatkala gelap
mendekap.
Hati mengerang karena kau
tak datang.
Rasaku merajang tahu
segala bimbang.
Pikirku nyinyir tak
pernah berakhir :
Mau kemana aku ?
Sebuah Kerinduan
Oleh: Riva Julianto
Cimanggis 1995
Hujan yang segera datang
adalah rintik-rintik air
yang jatuh ke bumi
dan kemudian pudar lagi.
Indah nian menjelang
kematian.
Sebuah kerinduan
mengambang,
Lalu hanyut ke laut dan tersangkut
pada karang yang
menjulang.
Kemudian datang ombak
besar
Yang segera mencerai-beraikannya.
Mawar Merah
Oleh: Riva Julianto
setangkai mawar merah
yang tadinya menghias
indah,
sekarang harus
mengucurkan darah
duri yang menjaganya
sedang marah,
karena seorang bidaah
memegangnya dengan keras
dan tergesa-gesa
Cimanggis 1995
Subscribe to:
Posts (Atom)