Wednesday, April 16, 2014

Keinginan

Oleh : Rosa Ausländer


Jika kupikirkan
betapa banyak kata yang hilang
betapa sedikit yang tinggal di telinga bumi
dan juga ada di pendengaranku

Jika kau pikirkan
hanya ada sedikit

Ada kata-kata
udara ini untuk bernafas
mereka dan aku

Jika kupikirkan
ada kata-kata
kami
indah
bersama

kuingin mereka
ikut serta bersamamu



Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.

Tiada Bukti

Oleh : Rosa Ausländer


Di kerajaan udara
bernafaslah puisi

Dengan ratusan tangan
memeluk pertunjukan

Api dan air
kita bakar, kita padamkan
sepanjang waktu

Tak bertepi mata kita
bahasa keheningan dan bintang

Berumah di dalam kata
dari metamorfosa

Kita tak butuh bukti
bahwa kita hidup



Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.

Tidak Indah

Oleh : Rosa Ausländer


Tidaklah indah
mengetahui mengapa
di bawah mentari
mawar penuh berduri

Di dalam bayang-bayang
berkumpul sekawanan
srigala

Tidaklah indah
mengetahui mengapa

Salju terkubur
rerumputan menghirupnya
di bawah salju
di bawah mentari

Entah mengapa
terbuka



Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.

Jika Kau Mau

Oleh : Rosa Ausländer


Jika kau ingin
pohon putih bisa
punya mata nan lembut

Hujan akan
memadamkan api hitam
bayang-bayang di belakangmu
dan bayang-bayang di depanmu
menjadi pohon

Jikau kau ingin
burung, bunga akan
akan memasukkan kepalanya ke pasir

Dewi Maia takkan bersedih
bayang-bayang di depanmu
dan bayang-bayang di belakangmu
akan melepaskan seragamnya

Dan pohon putih
akan menciptakan mata
karena kau percaya padanya



Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.

Kembali I

Sebuah kereta berjalan
melintasi selku

Pelancong-pelancong menyapaku
melambaikan tangan
selamat jalan

Kuikuti mereka
ke gunung
ke laut

Mendaki Rareu
bersama teman-teman yang hilang

Mandi di pantai
di sebuah pulau baru

Anakku yang tak pernah lahir
melempar bola kepadaku
kutangkap

Seorang laki-laki hitam menaruh
bayang-bayang di depan langkahku



Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.

Jangan Tertidur

Oleh : Rosa Ausländer


Dari guntur terbawa
bintang bertato
jangan tertidur
saat berenang

Sebuah kilat membelah
hati mega
yang jatuh ke air
membilas pergi mimpinya

Tepian laut menggeser
setiap kelokan
menuju ketiadaan berikutnya

Jangan tertidur
sewaktu berenang
airnya lemah


Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer. 

Tuesday, April 15, 2014

Menu

Oleh : Rosa Ausländer


Aku kupas hari ini
kacang keras
dari kulitnya

Kacangnya manis-asam
berjam-jam
memberi makan orang kelaparan

Sudah tergantung
bendera hitam
di jendela

Pendulum terbangun
di dalam jam di langit
timbangan bintang-bintang

Siapakah
yang menjarah
buah ceri yang berdarah



Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.

Keluar

Oleh : Rosa Ausländer


Keluar
kubuka
semua pintu

Dunia
membanjir masuk
keluar membanjir bersamaku
ke pepohonan yang tumbuh
ke saudara-saudaraku yang menderita




Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.

Diterangi

Oleh : Rosa Ausländer


Seberapa cepat
manusia melupakan segalanya

Kotoran burung
jatuh di atas jalan setapak

Biarkan air memancar
dari semua talang
sampai bintang-bintang
berdiri di paluh
di atas dan di bawah
sama saja

Kemudian
sinar terang
rerumputan dan burung Kutilang
seorang manusia



 
Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.

Keberuntungan

Oleh : Rosa Ausländer


Di dalam pencarian
daun semanggi bercabang empat,
mengelana matamu
di atas padang rumput

Di kota-kota
tumbuh bebatuan

Juga di Amerika
muncul pulau-pulau daun

Di matamu menghujam
air terjun Niagara

Di mana katakan di mana
bunga kecil itu menumbuhkan
keberuntungan



Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.

Tumbuh

Oleh : Rosa Ausländer



Dari akar
tumbuh tumbuhan
di antara bebatuan dan daun

Manusia juga tumbuh
dan bercermin
ke dalam mimpinya

Meskipun berat dibawanya
semua korban-korbannya

Cinta
membuatnya tumbuh
di dalam bait
yang seharusnya
tidak tenggelam



Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.

Musim Dingin I

Oleh : Rosa Ausländer


Putih adalah
jiwa dari musim dingin

saat semua warna
disatukannya
ke dalam pelangi
putih

Udara dingin
bulu binatang menggigil

Langkahmu menjauh
ke tanah Siberia

Kau menjaga di sini
di kampung halaman




Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer. 

Sunday, April 13, 2014

Di Sebuah Pulau

Oleh : Rosa Ausländer


Unggas-unggas lembayung
menghias musim panas
di hatiku

Aku berada di sebuah pulau
yang tak bertuan
di atas laut tak bertuan

Ikan-ikan mengunjungiku
bicara puisi
aku lelah mengartikannya

Seekor lumba-lumba membawaku
salam dari sahabat-sahabat
mereka mengundangku
yang aku sendiri
tidak dapat berenang





Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.

Sekejap Saja

Oleh : Rosa Ausländer


Biarkanlah demikian
surga
ada di dalam kekuasaan-Mu
aku pun turut serta
hanya sekejap saja

Biarkan aku
menjadi bintang kecil
yang menatap bumi
dengan ketidaksempurnaannya
kesempurnaan
yang sekejap saja



Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.

Saturday, March 1, 2014

Bermain II

Oleh : Rosa Ausländer


Kehidupan
mempermainkan kita

Kita berjalan
di atas jalan yang berair

Kita minum
apa yang ada

Kita mencintai
cinta

Kata mempermainkan
kehidupan




Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer. 

Friday, February 28, 2014

Kau Bergembira

Oleh: Rosa Ausländer


Pohon akasia berdarah
burung amsel, kupu-kupu
anak-anak sedang menyanyi

Kau bergembira
karena bau seorang narsis

Mendengar
nafas kehidupan
di dalam nafasmu







Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer. 

Misteri

Oleh : Rosa Ausländer


Jiwa sebuah benda
biarlah kuduga
keanehan
bumi yang takkan berhenti

Dengan rasa takut
kucari wajah
semua benda
dan kutemukan di dalamnya
misteri

Rahasia berbicara padaku
dengan bahasa yang hidup


Kudengar hati surgawi
mengetuk-ngetuk
di dalam hatiku



Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer. 

Pujian

Oleh: Rosa Ausländer.



Pujian
bumi
dan keajaiban yang tak pernah berhenti

Matahari bulan gugusan bintang
dan apa yang berdiri
di belakangnya

Persaudaraan manusia
terekam
di dalam wadah hati
keabadian kecil kami



Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer. 


Musim Panas

Oleh: Rosa Ausländer.



Hijaunya
daun tak pernah bisa ditebak
pohon papel
dibelai angin

Matahari
membuka pintunya

Masuklah
warna-warni jiwa
ke dalam jejaring udara

Saudara perempuan yang tak pernah lahir
melambaikan salam cinta dan isyarat

Siapakah menyanyikan
burung-burung impian
di atas pohon papel


*Papel (Populus): sejenis pohon sangat tinggi dan besar



Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer. 

Matahari II

Oleh: Rosa Ausländer


Sore hari
muncul matahari
ke dalam kamar

Semuanya berubah
keemasan

hangatnya bagian hidup ini
kekayaan emas ini

Kubiarkan bendera emas menyala
berkibar di atas menara
mimpiku



Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer. 

Bumi Datar

Oleh: Rosa Ausländer



Puncak pegunungan
yang memutih ini
di negeri tak ada peperangan

aku mendaki puncaknya
dan dunia
menjejakan kaki

Kini
bumi datar
dan kakinya
terdiam




Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer. 

Dongeng


Oleh : Rosa Ausländer


di balik jagat raya
tertidur dongeng-dongeng

siapa yang tahu jalannya
siapa yang tahu kuncinya

kami anak-anak
menanti



Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer. 

Rumah

Oleh: Rosa Ausländer


Adalah
memiliki rumah

Di dalam kayu lapuk
semut-semut
membangun negara
jalannya tersusun dari usaha dan kayu

Kerang mutiara
terbilas di tepi pantai
tak berguna
bagi hiasan dinding

Di manapun kota
menuju ketiadaan
kami meletakannya di atas besi

Karena rumah kami
tiada



Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer. 

Sunday, February 23, 2014

Daun Pohon

 Oleh: Rosa Ausländer


Daun pohon
mirip seperti dari hutan
kota asalku
terbang ke dalam kamarku

Ia datang
menghiburku

Di kala muda di sana
jadi tempat merenung
di sana tinggal kawan dan gunung
yang hilang

Serat urat pohon yang halus
persembahan
untukku




Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.

Korban

Oleh: Rosa Ausländer


Di dalam sel yang gelap
yang ada hanya angan-angan

Barangsiapa telah memakannya
dari pancing

Tangan yang keras
mengusir malaikat
yang ingin membawa
sebuah bunga



Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.

Menjual

Oleh: Rosa Ausländer


Di musim semi
kujual
bunga violet
dari surga yang hilang

di musim panas
bunga mawar kertas

bunga aster dari kata
di musim gugur

di musim dingin
bunga es dari jendela
ibuku yang mati

sehingga aku hidup
di kala siang di belakang
malam hari

malam
yang kupuja
bulan dan bintang

sampai matahari terbit
dan menjualku
di kala siang hari




Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.

Wednesday, February 19, 2014

Di Depan Balkonku

Oleh: Rosa Ausländer


Setengah lingkaran air
menari tanpa henti

Berulang-ulang
gerakan tangan monoton
hingga larut malam

Pohon Papel
menggoyang ujung kepala
saat percakapan dengan angin

Mata kecilku
menangkap pementasan megah itu
bermain-main dengan makhluk hidup



Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.

Musim Gugur

Oleh: Rosa Ausländer


Juga di musim gugur
bernyanyilah burung-burung
masyarakat pilihan

Kita pemakai topeng
lupa
mendengar
percakapan burung Amsel
dan senandungnya

Musim gugur
musim yang ramah

Taruh kamarmu
di dalam kerangka
waktu




Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.

Bumi Hijau Coklat

Oleh: Rosa Ausländer


Hijau bumi
mengajari kita
kata-kata bijak
untuk hari-hari
yang mengerikan


Ketika seorang teman mati
dan kesedihan
melanda hati

Ketika kita terjatuh
tak mampu berdiri
di atas bumi coklat pekat




Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.

Kau Bergembira

Oleh: Rosa Ausländer


Pohon Akasia mengeluarkan darah
burung Amsel dan kupu-kupu
anak-anak sedang berdendang

Kau bergembira
karena wangi seorang narsis

mendengar
nafas hidupnya
di dalam nafasmu



Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari buku "Mein Atem heiβt jetzt" atau "Nafasku namanya sekarang" (kumpulan puisi) karya Rosa Ausländer.

Mau Kemana Aku?

Oleh: Riva Julianto




Jiwa kalap tatkala gelap mendekap.

Hati mengerang karena kau tak datang.

Rasaku merajang tahu segala bimbang.

Pikirku nyinyir tak pernah berakhir :

Mau kemana aku ?




Depok 1992

Sebuah Kerinduan

Oleh: Riva Julianto




Hujan yang segera datang
adalah rintik-rintik air
yang jatuh ke bumi
dan kemudian pudar lagi.

Indah nian menjelang kematian.
Sebuah kerinduan mengambang,
Lalu hanyut ke laut dan tersangkut
pada karang yang menjulang.

Kemudian datang ombak besar
Yang segera mencerai-beraikannya.




Cimanggis 1995

Mawar Merah

Oleh: Riva Julianto




setangkai mawar merah
yang tadinya menghias indah,
sekarang harus mengucurkan darah

duri yang menjaganya
sedang marah,
karena seorang bidaah
memegangnya dengan keras
dan tergesa-gesa



Cimanggis 1995