Oleh: Riva Julianto
Suatu malam di taman kehidupan kota Jakarta,
kupanjatkan doa kepada patung-patung yang berdiri
gagah perkasa. Dalam doa kutanya: Mengapa jantungnya
tidak memompa darah dari dalam tanah saja, dari pada
harus diinfus darah milik tunamanusia yang sering
terlena dalam pelukannya ?
Patung-patung itu serentak terhenyak, karena tak
pernah seorang pun bertanya dalam doanya kepada mereka
tentang jantung dan darah yang mereka punya. Sekalipun
mereka beranjak dari tempat mereka mematung, takkan mau
mereka bicara soal jantung dan darah yang membedakan
mereka dengan manusia.
Cimanggis 1993
No comments:
Post a Comment