Seorang muda terpekur di
dalam kubur hampir lima puluh tahun
lamanya. Sebuah tanda
jasa menggeleggak di atas pusaranya.
Berterbangan semua gagak
yang bertengger di atas nisannya.
Berguguran bunga kemboja
menyambut kedatangannya. Sorak-sorai
perayaan kemerdekaan
mengiringi tidurnya yang panjang.
Ketika derap langkah kaki
dan ayunan tangan semakin dalam
menggali kuburnya,
sejarah yang penuh darah dan pernah merekah
masa mudanya ia
sembunyikan di balik bantalnya. Ia merasa
takut karena teman,
handai taulan dan kampung halamannya
hilang ditelan perang
yang semakin jalang. Dalam doanya ia
tak lupa menyebut nama,
pangkat, senjata dan teriak merdeka,
memohon bantuan dan
kuasanya agar abadi negerinya.
Berjajar kubur
kawan-kawannya dalam kawalan halilintar.
Sangat memekakan telinga
hingga tak mungkin mendengar pekik
kata merdeka mereka lagi.
Gema mereka luruh dimangsa gemuruh
beton-beton besar, yang
dengan sabar ingin menaklukan
dan mencakar langit. Di
langit itulah anak cucu mereka harus berada.
Seperti pernah diceritakan
seorang pejuang kepada anak-anak
yang sedang bermain
perang-perangan sambil meneriakan
kata merdeka. Ketika
anak-anak itu dewasa dan bangsa
sudah merdeka, mereka
tak tahu harus berteriak apa.
Orang muda itu tetap saja
terpekur di dalam kuburnya, menikmati
getaran beton-beton yang
ditanam anak cucunya.
Getaran seperti itu
pernah dirasakannya ketika ia muda.
Sebuah getaran yang panas
dan memekakan telinga meruntuhkan
bumi yang dipijaknya.
Depok, 1995
No comments:
Post a Comment