Friday, February 14, 2014

Merdekanya Seorang Muda

Oleh: Riva Julianto



Seorang muda terpekur di dalam kubur hampir lima puluh tahun
lamanya. Sebuah tanda jasa menggeleggak di atas pusaranya.
Berterbangan semua gagak yang bertengger di atas nisannya.
Berguguran bunga kemboja menyambut kedatangannya. Sorak-sorai
perayaan kemerdekaan mengiringi tidurnya yang panjang.

Ketika derap langkah kaki dan ayunan tangan semakin dalam
menggali kuburnya, sejarah yang penuh darah dan pernah merekah
masa mudanya ia sembunyikan di balik bantalnya. Ia merasa
takut karena teman, handai taulan dan kampung halamannya
hilang ditelan perang yang semakin jalang. Dalam doanya ia
tak lupa menyebut nama, pangkat, senjata dan teriak merdeka,
memohon bantuan dan kuasanya agar abadi negerinya.

Berjajar kubur kawan-kawannya dalam kawalan halilintar.
Sangat memekakan telinga hingga tak mungkin mendengar pekik
kata merdeka mereka lagi. Gema mereka luruh dimangsa gemuruh
beton-beton besar, yang dengan sabar ingin menaklukan
dan mencakar langit. Di langit itulah anak cucu mereka harus berada.
Seperti pernah diceritakan seorang pejuang kepada anak-anak
yang sedang bermain perang-perangan sambil meneriakan
kata merdeka. Ketika anak-anak itu dewasa dan bangsa
sudah merdeka, mereka tak tahu harus berteriak apa.


Orang muda itu tetap saja terpekur di dalam kuburnya, menikmati
getaran beton-beton yang ditanam anak cucunya.
Getaran seperti itu pernah dirasakannya ketika ia muda.

Sebuah getaran yang panas dan memekakan telinga meruntuhkan
bumi yang dipijaknya.




Depok, 1995

No comments:

Post a Comment