Deru angin yang membatu
meretakan dinding
kesunyian itu
hingga terlihat jelas
garis kehidupannya
dipecahkannya kebisuan
satu per satu
sampai hilang arti
ketiadaan
di antara mata yang
mengamatinya
tak, tik, tak, tik, tak
angin-angin berjatuhan
merdu mendayu-dayu
seraya mengusik
keharmonisan yang terkantuk-kantuk
menjaga singgasananya
No comments:
Post a Comment