Oleh: Riva Julianto
Kata-kata telah berubah
jadi huruf,
tertera di kertas putih.
Mereka memancarkan
keinginan tertepis
seorang angkuh,
karena direngkuhnya huruf
demi huruf
yang menyusup ke dalam
buku hariannya.
Kata yang didapatkannya
dari hidup
menjelma jadi orangtua,
guru, teman
atau bahkan dirinya
sendiri.
Ia tak leluasa
melafalkannya dalam hidup.
Ia buang semuanya ke
dalam goresan pena
agar dirinya leluasa
melihat kata
yang sedang
berjingkat-jingkat hendak
melarikan diri dari dunia,
karena kata tak kuat lagi
menahan
amanat yang diembannya.
Dahulu kata
adalah sajak yang penuh
dengan kegembiraan:
mempermainkan makna
seenaknya.
No comments:
Post a Comment