Tanah tempatku berpijak mendadak sendu,
Matahari tampak mulai jemu dengan kehidupan
Angin menyeret-nyeretku tak menentu
Saat itulah tulang rusukku mulai meregang
Selalu mengganggu hidupku setiap waktu
Debu-debu itu telah mengaburkan segalanya
Semua tampak suram, tenggelam dalam lautan hitam
Segalanya tak terbaca oleh pikiran,
Bahkan oleh nuraniku sekalipun
Saat itulah temaram tiba menjemputku
“Selamat malam. Kami utusan alam.
Maaf, Anda akan kami bawa menghadap Sang Kelam.”
Cipayung
2006
No comments:
Post a Comment